When the Poor People doesn’t Poor Look Like

 

Malam hari setelah usai mengambil stock baju untuk customerku aku mulai keluar dari pusat grosir untuk segera pulang. Seperti biasa aku mulai mencari abang becak untuk mengantarkanku pulang. Beberapa yang mengenalku sebagai langganan langsung memanggilku ” mbak.  Mbak,  mari becak “.  Aku tersenyum riang karena tidak perlu menawar lagi seperti yang aku lakukan dengan abang becak baru.

Mereka bekerja siang malam,  menghirup udara beracun di jalanan dan tidur diatas becak tanpa rumah untuk berteduh.  Apakah kenyataannya seperti itu. Tidak.. menjadi penarik becak hanyalah pekerjaan tambahan lainnya.  Banyak banget keahlian mereka yang luar biasa sehingga mungkin beberapa memiliki sepeda motor.

Mereka mendapatkan uang dari….  membuat rak tingkat untuk tas atau sepatu untuk mall,  membuat kwade pernikahan,  tukang parkir,  pegawai admin ekspedisi,  sampai input data di komputer.  Secanggih itu?

Ketika aku sadar bahwa mereka bekerja lebih giat dari pada aku menjadikanku berpikir…  jika mereka mampu menghasilkan sejuta maka kita yang lebih unggul di modal dan fasilitas seharusnya menghasilkan 10 kali lebih banyak,  minim.  Tapi kenyataannya?
Masih banyak pekerja kantoran yang hasilnya kadang nol dibanding mereka. Mereka hebat begitu juga kita. Kita dan mereka sama yang berbeda adalah mereka memanfaatkan kekurangan dan minimnya fasilitas lebih besar daripada kita.

Ayukkk jangan mau kalah ya😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s