Terhipnotis atau Takdir ?!!!

Gambar

Melamar pekerjaan adalah sesuatu yang menyusahkan, harus melewati beberapa tahap yang panjang. Interview 1, test IQ dan EQ, test keahlian, test kesehatan (bila perlu), interview 2 (negosiasi) dan tanda tangan kontrak kerja. Itu jika hanya satu perusahaan yang dilamar, kalo sepuluh perusahaan???? Cape deh. Belum lagi kalo ada test tambahan seperti bahasa Inggris dan komputer yang bisa-bisa memakan waktu seharian. Banyak waktu dan uang yang dihabiskan untuk melamar di suatu perusahaan. Karena itu, jika mau resign harus benar benar dipikirkan.

Kebosanan di tempat kerja sebelumnya, membawaku untuk mengetik lima CV dalam waktu singkat, dan mendistribusikannya dengan agresive. Pemikiran “aku harus segera keluar dari sini” membuatku terpacu untuk segera pindah kerja. Atasan yang baik hati, sempat membuatku menunda resign selama setahun. Aku berhutang banyak darinya. Tapi, waktu terus berjalan, dan kalau aku tidak bisa mencari pekerjaan yang lebih baik, tanpa tekanan dan stress yang berkelanjutan, maka mungkin aku bisa mengalami darah tinggi J dan tabunganku tidak akan pernah penuh :p

Keluar dari pekerjaan, interview, dan masuk ke lingkungan pekerjaan yang baru ternyata tidak sesulit yang aku bayangkan. Pertama kali diinterview, si boss sama sekali tidak menolak atas penawaran gaji yang aku berikan. Oh Shit! Sepertinya aku memberikan penawaran yang terlalu rendah. Sedangkan teman temanku yang melamar pekerjaan di perusahaan lain meminta gaji dua kali lipat dari yang aku minta. Untungnya aku berkata bahwa “setelah 3 bulan percobaan aku menginginkan penilaian ulang atas prestasi dan gaji”. Si Boss setuju.

Bekerja selama hampir 5 tahun di perusahaan ini membawaku ke level gaji dua kali lipat dari permintaanku yang dulu. Akan tetapi, kau tau, temanku pada penawaran awal telah meminta dua kali lipat terlebih dahulu, yang kemungkinan besar, gajinya sekarang berada dua kali lipat diatasku. Dan ditambah lagi, sistem kerja di perusahaannya lebih stabil daripada tempatku bekerja, dengan jenjang karir, tunjangan, job desk yang jelas, dan adanya kontrak kerja. Sedangkan aku…..? Semua adalah kebalikannya.

Aku menyimpulkan dari semua hal, bahwa aku “terhipnotis” pada awal masuk kerja. Buru-buru mencari pekerjaan demi mendapatkan uang tanpa mempertimbangkannya dulu. Aku “terhipnotis” oleh kharisma si Boss. Aku terhipnotis oleh bangunan yang nampak depan indah (dalamnya? Terutama ruanganku? Dont ask, I will hate u).  Aku terhipnotis oleh internet gratisnya dan kebebasan pada pakaian kerja.

Inilah tempat kerjaku sekarang, begitu menghipnotis untuk tetap tinggal meskipun dalam suasana seburuk apapun.

I love my job , but I hate the system in my company. How do I?

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s